21/02/2020

Paotere

Hari masih pagi, sekitar pukul 10.00 Wita di hari Sabtu, 20 Juli 2019, muara sungai di Paotere sudah dipenuhi perahu jolloro dengan berbagai ukuran. Perahu-perahu nelayan itu sebagian besar baru saja menyelesaikan transaksi jual beli ikan segar dalam jumlah besar dengan pedagang dari daratan, dan akan berangkat pulang ke pulau masing-masing. Tentu saja jolloro mereka pulang tidak dalam keadaan kosong. Sebelum meninggalkan muara yang telah difungsikan sebagai dermaga lalu lintas penyeberangan laut, perahu-perahu jolloro tersebut mengisi palka dengan puluhan jerigen kapasitas 20 liter berisi air bersih, bahan makanan dan tentu saja bahan bakar. Ada juga yang mengangkut penumpang yang akan menyeberang ke pulau.

Jolloro adalah perahu nelayan yang digunakan untuk menangkap ikan di tengah lautan, atau untuk membeli ikan dari kapal besar penangkap ikan untuk dibawa ke kota dan dijual kepada pembeli yang sudah menunggu di pusat pelelangan ikan. Panjang perahu jolloro antar 8 meter hingga ada yang mencapai 17 meter. Status kehidupan ekonomi pemilik perahu jolloro, ditentukan oleh panjang perahu. Semakin panjang perahu, maka semakin makmur si pemilik jolloro. Karena semakin panjang perahu, kapasitas angkut hasil tangkapan ikan juga semakin banyak yang bisa dibawa ke daratan. Selain itu, semakin besar perahu, semakin banyak barang yang bisa dibawa pulang ke pulau dan lebih banyak penumpang yang bisa ikut menyeberang.

Paotere merupakan salah satu pusat pelelangan ikan terbesar yang ada di Makassar. Terletak di pesisir sebelah utara Makassar, menjadikan Paotere menjadi pusat kegiatan bongkar muat ikan segar. Dari Paotere, ikan segar berdatangan dari berbagai penjuru, terutama dari kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Sebagian lainnnya datang dari wilayah perairan Kabupaten Takalar.

Bagi masyakarat pulau yang berada di wilayah Kabupaten Pangkep, Paotere sangat akrab sebagai pintu masuk ke daratan kota Makassar. Anak-anak pulau memang lebih suka masuk melalui muara sungai Paotere dengan menumpang perahu jolloro. Sedangkan bagi penumpang yang menggunakan alat penyeberangan resmi berupa perahu ferry, dapat menyeberang melalui Pelabuhan Paotere. Menumpang dengan perahu jolloro, berarti harus siap-siap mengarungi lautan di bawah terik matahari.

Selain menjadi pusat penyeberangan ke pulau-pulau, Paotere merupakan salah satu tempat kulineran yang asyik, terutama bagi penyuka sea food. Banyak warung yang bertebaran di sekitar Paotere yang khusus menyediakan makanan hasil laut antara lain cumi bakar, baronang, hasil olahan ikan seperti otak-otak ikan.

Bagi yang suka memilih ikan, dapat juga membeli ikan segar di pelelangan dan membawanya ke warung untuk dibakarkan dan dinikmati bersama nasi panas dan cobek segar.

Penulis: Hurriah AH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *